Rabu, 29 Oktober 2014
Ludwig van Beethoven keluar jadi jabang bayi tahun 1770 di kota Bonn,
Jerman. Semasa kanak-kanak sudah tampak jelas bakat musiknya yang luar
biasa dan buku musik ciptaannya muncul pertama kali tahun 1783. Di usia
remaja dia berkunjung ke Wina dan diperkenalkan kepada Mozart tetapi
perjumpaan keduanya berlangsung singkat. Tahun 1792 Beethoven kembali ke
Wina dan sebentar dia belajar musik dengan Haydn yang kala itu pencipta
musik Wina kesohor (Mozart mati setahun sebelumnya).
Tetapi, kenyataan lebih mengherankan lagi ketimbang yang dibayangkan
dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya, Beethoven melakukan ciptaan
tidak sekedar setarap dengan apa yang dihasilkan sebelumnya, melainkan
umumnya dianggap merupakan hasil karya terbesarnya. Dia meninggal di
Wina tahun 1827 pada usia lima puluh tujuh tahun.
Sejarah Kabupaten Pemalang
Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan
berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden
berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesa yang
unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti
arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat
dihubungkan seperti adanya kuburan Syech Maulana Maghribi di Kawedanan Comal.
Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga
memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.
Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof
Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun
1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang
dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati
dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut,
termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal
Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.
Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih
penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan
raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah
(Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling
tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.
Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul
pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang
pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di
bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.
Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional
pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran
Benawa. Pangeran uu asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya
yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.
Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya
dan Aria Pangiri.
Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun.
Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat
menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa
Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).
Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R.
Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang
berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada
masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut
beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung
kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian
Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan
pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu
perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.
Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya
menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di
Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC
pada tahun 1678.
Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh
Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah
berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang
Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal
sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri
dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti
Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau
Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada
masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih
membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa
hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.
Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java
Oorlog Uan 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Uan Den Poet mengorganisasi
beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan
diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari
1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan
adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat
secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan
peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat
bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati
Reksodiningrat.
Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung
Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya
pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil
padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX
disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan
Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan
Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan
nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi
Jawa Tengah.
Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun
tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk
lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa
ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang
yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa
dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).
Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten
Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga
merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya
mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan
Jogio sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.
Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan
administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif
Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif
kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan
perkembangan dimasa sekarang.
Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka
pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi
Pemalang. Hal ini selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten
Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan
nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.
Penetapan hari jadi ini dapat dihubungkan pula dengan tanggal pernyataan
Pangeran Diponegoro mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda,
yaitu tanggal 20 Juli 1823.
Namun berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten
Pemalang Hari Jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan
Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam
Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996
tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang.
Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo “Lunguding Sabdo
Wangsiting Gusti” yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran,
pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751.
Sedangkan tahun 1496 je diwujudkan dengan Candra Sengkala “Tawakal Ambuko
Wahananing Manunggal” yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka,
sarana/wadah/alat untuk,persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.
Langganan:
Postingan (Atom)